BERITASEMARANG.ID – Di tengah genangan banjir yang melanda Kabupaten Kudus, secercah harapan hadir melalui aksi nyata para mahasiswa Universitas Semarang (USM). Tidak hanya sekadar bantuan logistik, tim mahasiswa dari Fakultas Psikologi USM terjun langsung memberikan layanan trauma healing bagi warga terdampak di Posko SDN 1 Payaman, Kecamatan Mejobo, pada Minggu (17/1).
Lima srikandi Psikologi USM—Patonatul Millah, Afwanesya Maulida Suciwati, Kafita Wahyuni Asih, Moidhotul Khasanah, dan Nirmala Aprilliana Prayoga—menjadi garda terdepan dalam memulihkan kondisi psikologis warga. Bergandengan tangan dengan tim KSR dan Fokmi USM, mereka mengubah teori di bangku kuliah menjadi aksi nyata yang menyentuh hati.
Evakuasi Dramatis di Tengah Situasi Darurat
Aksi kemanusiaan ini tidak berhenti pada pemulihan mental. Di hari yang sama, tim relawan USM bergerak cepat melakukan evakuasi lansia dan warga yang sakit di Dukuh Karanganyar, Desa Payaman.
Bekerja sama dengan tim Medical Emergency Disaster and Adventure (Med-A), proses evakuasi berlangsung penuh haru namun tetap sigap.
”Evakuasi kami lakukan karena situasi darurat. Banyak lansia dan warga sakit yang harus segera dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman agar bisa mendapatkan perawatan intensif dari keluarga,” ujar Saiful Hadi, Koordinator Lapangan Sukarelawan USM.
Sinergi Lintas Sektor dan Kepedulian Ibu & Anak
Sebelumnya, tim USM juga aktif terlibat dalam evakuasi warga Desa Gulang bersama jajaran TNI, Polri, dan relawan gabungan. Selain memastikan keselamatan warga, mereka juga menyalurkan bantuan khusus berupa perlengkapan bayi—kebutuhan yang seringkali terlupakan di tengah situasi bencana—di posko pengungsian SDN 1 Payaman.
Apresiasi dari Akademisi
Gerakan cepat para mahasiswa ini mendapat apresiasi tinggi dari pihak universitas. Wakil Rektor I USM, Prof. Dr. Haslina, M.Si., menyampaikan rasa bangganya atas dedikasi para mahasiswa di lapangan.
”Kami sangat mendukung penuh para sukarelawan yang bertugas. Kehadiran mahasiswa Psikologi, tim KSR, dan Fokmi diharapkan mampu menjadi pelipur lara dan meringankan beban fisik maupun psikis para korban banjir,” ungkap Prof. Haslina.

Komentar