BERITASEMARANG.ID — Pernyataan Direktur Utama PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat, bahwa “ide-ide saya sudah kuno” menjadi catatan menarik dari perhelatan Prasasta Gala Awards.
Pernyataan tersebut disampaikan Irwan saat menerima penghargaan Life Achievement Prasasta Gala Windu Bhakti atas dedikasinya selama lima dekade membangun industri yang selaras dengan alam dan masyarakat.
Dalam tulisannya berjudul Catatan dari Prasasta Gala Awards: Ketika CEO Berkata “Ide Saya Sudah Kuno”, Direktur Pusat Bahasa dan Budaya Universitas Semarang (USM Language and Culture Center/LCC), Adi Ekopriyono, menilai pernyataan tersebut menunjukkan kesadaran seorang pemimpin terhadap pentingnya perubahan dan regenerasi.
Menurut Adi, pengalaman panjang seorang pemimpin merupakan modal penting bagi perusahaan, tetapi tidak seharusnya menjadi alasan untuk menutup ruang bagi gagasan generasi baru. Perubahan teknologi, perilaku konsumen, dunia kerja, hingga model bisnis menuntut organisasi terus beradaptasi.
“Pengalaman menjadi modal untuk memahami perubahan, bukan alasan untuk menolak perubahan,” tulis Adi.
Ia menekankan, regenerasi bukan sekadar mencari pengganti seorang CEO, melainkan menyiapkan organisasi agar mampu melanjutkan perjalanan tanpa bergantung pada satu figur. Pemimpin yang berorientasi pada keberlanjutan, menurutnya, akan mempersiapkan orang lain untuk mengambil keputusan dan memimpin.
Dalam konteks perusahaan keluarga, regenerasi juga menjadi tantangan untuk menjaga warisan tanpa terjebak pada masa lalu. Generasi senior membawa pengalaman dan kedalaman, sementara generasi muda menawarkan perspektif serta gagasan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Adi menyebut, salah satu bentuk kepemimpinan yang matang adalah kemampuan memberi ruang kepada generasi berikutnya untuk belajar, mengambil keputusan, melakukan evaluasi, hingga memimpin.
“Warisan terbaik seorang pemimpin bukanlah jabatan yang berhasil dipertahankan, melainkan masa depan yang berhasil dipersiapkan,” tulisnya.
Pernyataan Irwan Hidayat tersebut pun dapat dimaknai sebagai refleksi bahwa kepemimpinan pada akhirnya bukan tentang berapa lama seseorang mempertahankan jabatan, melainkan seberapa baik ia menyiapkan organisasi untuk tetap tumbuh ketika tongkat estafet berpindah ke generasi berikutnya.

Komentar