Pendidikan Serambi Islam

Wujud Ketaatan dan Empati, Dosen Hukum USM Dr Kukuh Sudarmanto Kurban 10 Kambing

BERITASEMARANG.ID – Menjadi agenda rutin setiap tahun, Dosen S1 dan Magister Hukum Universitas Semarang (USM), Dr. Drs. Adv. H. Kukuh Sudarmanto Alugoro, BA., S.Sos., S.H., M.H., M.M., kembali menunaikan ibadah kurban pada Idul Adha 1447 H. Tahun ini, Dr. Kukuh berkurban sebanyak 10 ekor kambing yang proses pemotongannya dilaksanakan di Masjid Baitur Rasyid USM, Jl. Soekarno-Hatta, Tlogosari, Pedurungan, Semarang, pada Rabu (27/5/2026).

​Usai pelaksanaan Shalat Idul Adha, Panitia Kurban Masjid Baitur Rasyid USM secara total menyembelih 4 ekor sapi dan 17 ekor kambing, di mana 10 kambing di antaranya merupakan kurban dari Dr. Kukuh.

​Dr. Kukuh, yang juga aktif sebagai takmir Masjid Baitur Rasyid USM, mengungkapkan bahwa ibadah kurban ini dapat terlaksana secara rutin berkat kedisiplinan dalam merencanakan keuangan.

​”Kami melaksanakan kurban setiap tahun sebagai bentuk ketaatan kepada Allah SWT. Selain itu juga sebagai syiar agama dan rasa empati kepada warga yang membutuhkan. Kami lakukan ini dengan cara menabung secara disiplin dan istiqamah selama satu tahun,” ujarnya usai penyembelihan.

​Lebih lanjut, pakar hukum ini menambahkan bahwa ibadah kurban—atau yang dalam fikih disebut udhiyah/dhabihah—bukan sekadar ritual memotong hewan. Kurban memiliki dimensi syariat, sosial, dan budaya yang mendalam.

Sentuhan Humanis Wali Kota Semarang: Ajak Anak Yatim Nobar ‘Children of Heaven’ dan Pompa Semangat Raih Mimpi

​Menurut mayoritas ulama, hukum kurban adalah sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan), sementara menurut Madzhab Hanafi hukumnya wajib bagi yang mampu. Dr. Kukuh kemudian menyitir dalil utama kurban yang tercantum dalam QS. Al-Kautsar ayat 2, serta hadis riwayat Muslim yang menjelaskan bahwa tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain menyembelih kurban.

​Dalam konteks sosial, Dr. Kukuh menilai kurban merupakan simbol ketaatan sekaligus jembatan yang menghubungkan kelompok masyarakat yang mampu dengan yang kekurangan.

​”Di hari yang penuh berkah yakni Idul Adha, tidak setiap orang memiliki kelapangan untuk makanan di hari itu. Dengan ibadah kurban dan anjuran membagikannya kepada sekitar, akan semakin menambah rasa cinta di hati sesama muslim dan menjadi perekat sosial tahunan,” jelasnya.

​Menariknya, Dr. Kukuh juga menyinggung bagaimana kurban berakulturasi dengan budaya lokal di Indonesia.

  • Di Jawa: Terdapat tradisi unik bernama “ngeblek”, yaitu mengarak kambing kurban keliling kampung sebelum disembelih agar warga mengetahui siapa yang berkurban.
  • Di Minang: Distribusi daging kurban menerapkan sistem nagari untuk memastikan pemerataan.

​Melalui ibadah ini, masyarakat secara umum telah memahami bahwa esensi kurban adalah berbagi dan membantu tetangga yang membutuhkan, sesuai dengan esensi tertinggi dari hukum Islam (maqashid syariat).

Honda Jateng Gencarkan Edukasi Etika Berkendara dan Tips Hadapi Pengendara Luar Kota

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement