Otomotif

Waspada Aquaplaning, Tips Aman Berkendara Saat Hujan di Jalan Raya

BERITASEMARANG.ID  – Jalur Pantai Utara (Pantura) memang menjadi urat nadi logistik Indonesia, namun di balik aspalnya yang panjang, tersimpan ancaman sunyi saat hujan tiba: Aquaplaning. Fenomena ini bukan sekadar licin biasa, melainkan kondisi di mana motor Anda kehilangan “pijakan” pada bumi.

​Banyak pengendara yang belum sadar bahwa tindakan refleks yang dianggap menyelamatkan, seperti mengerem mendadak, justru merupakan tiket menuju kecelakaan fatal.

​Apa Itu Aquaplaning?

​Menurut Oke Desiyanto, Senior Instruktur Safety Riding Astra Motor Jateng, aquaplaning terjadi ketika ban motor tidak lagi menyentuh aspal, melainkan mengapung di atas lapisan air.

​”Seharusnya ban membelah air, tapi karena kecepatan atau kondisi ban, ia justru meluncur di atas air. Di momen ini, motor Anda sebenarnya sedang ‘terbang’ rendah,” jelas Oke.

​Mengapa Jalur Pantura Begitu Berisiko?

​Ada tiga faktor utama yang membuat Pantura menjadi lokasi rawan insiden ini:

Kejar Mimpi MotoGP: 10 Wonderkid Indonesia Resmi Terpilih Masuk Astra Honda Racing School 2026

  • Laju Kendaraan: Kondisi jalan yang lurus memancing pengendara memacu motor di atas 60 km/jam, kecepatan krusial terjadinya aquaplaning.
  • Kondisi Ban: Ban yang sudah tipis (botak) tidak lagi memiliki alur untuk membuang air keluar.
  • Kontur Jalan: Adanya cekungan kecil atau perbedaan tinggi antara aspal dan beton yang menjadi kolam jebakan bagi air hujan.

​Kesalahan Fatal: Menarik Rem Sedalam Mungkin

​Insting manusia saat merasa goyang atau melewati genangan adalah mengerem. Namun, Oke Desiyanto memperingatkan bahwa ini adalah kesalahan paling mematikan.

​”Saat ban mengapung, tidak ada traksi. Jika Anda mengerem mendadak, roda akan langsung terkunci (locking). Karena tidak ada gesekan dengan aspal, motor akan terpelanting seketika (lowside),” tambahnya. Di jalur sepadat Pantura, terjatuh berarti risiko besar tertabrak kendaraan besar dari belakang.

​Protokol Penyelamatan: Jangan Panik, Lakukan Ini!

​Jika Anda merasa motor mulai melayang atau tidak stabil di atas genangan, lupakan rem sejenak. Lakukan langkah “3-Jangan” berikut:

  1. Tutup Gas Perlahan: Jangan melepas gas secara mengejutkan. Turunkan putaran mesin secara bertahap agar motor melambat secara alami.
  2. Dilarang Mengerem Ekstrem: Hindari penggunaan rem depan maupun belakang. Biarkan momentum berkurang sendiri hingga ban kembali menyentuh aspal.
  3. Tetap Tegak & Lurus: Jangan mencoba berbelok atau bermanuver miring. Jaga setang tetap lurus sampai Anda merasakan grip (cengkeraman) kembali.
  4. Fokus Masa Depan: Arahkan pandangan ke area jalan yang kering atau lebih aman, jangan terpaku pada genangan di depan mata.

​Kesimpulan: Antisipasi Lebih Murah dari Pemulihan

​Kecepatan 40 km/jam di jalan basah bisa jauh lebih mematikan daripada 80 km/jam di kondisi kering jika manajemen risiko diabaikan.

​”Ban motor adalah satu-satunya titik kontak kita dengan bumi. Jangan memaksanya berhenti saat ia sedang mengapung. Turunkan kecepatan sebelum masuk genangan, bukan saat sudah di dalamnya,” tutup Oke dengan tegas.

Perluas Akses Pendidikan di Pantura, UNDIP Resmi Mulai Pembangunan Gedung PSDKU 5 Lantai di Rembang

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement