BERITASEMARANG.ID – Badan Urusan Logistik (Bulog) Kantor Cabang Semarang menegaskan posisinya sebagai pilar kedaulatan pangan nasional. Tak tanggung-tanggung, saat ini Bulog mencatat rekor penguasaan stok beras terbesar sepanjang sejarah, yakni mencapai 5,23 juta ton.
Hal ini terungkap saat Bulog Kancab Semarang menerima kunjungan industri dari 98 mahasiswa Teknologi Hasil Pertanian (FTP) Universitas Semarang (USM) di Kompleks Pergudangan Tambakaji, Kota Semarang, Kamis (7/5).
Bukan Sekadar ‘Omon-Omon’, Stok Melimpah dan Terjaga
Kepala Bulog Cabang Semarang, Rendy Ardiansyah, menyatakan bahwa transparansi pengelolaan pangan sangat penting agar masyarakat, termasuk akademisi, memahami proses di balik layar ketersediaan beras nasional.
”Mahasiswa bisa melihat langsung kondisi ketersediaan pangan yang ada di gudang, sistem pergudangan, hingga tata kelolanya. Ini nyata, bukan sekadar omon-omon,” ujar Rendy di hadapan para mahasiswa.
Ia menambahkan bahwa Bulog mengemban misi besar untuk menjamin ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga pangan pokok dengan praktik bisnis yang unggul.
Intip Teknologi di Balik Layar: Monitor Real-Time & IoT
Kunjungan ini membuka mata para mahasiswa bahwa pengelolaan beras di gudang Bulog telah bertransformasi menggunakan teknologi modern. Menjawab rasa penasaran mahasiswa terkait risiko kerusakan pangan, Kepala Gudang Bulog, Moh Ilham, membeberkan rahasia kualitas beras tetap terjaga:
-. Kontrol Suhu & RH Real-Time: Gudang telah dilengkapi fasilitas monitoring suhu dan kelembaban (Relative Humidity) secara digital untuk mencegah tumbuhnya mikroba dan jamur.
-. RH Ekuilibrium: Pengaturan kelembaban dilakukan secara presisi agar beras tidak kehilangan kadar air namun tetap aman dari serangan bakteri.
-. Fumigasi Modern: Sistem pembasmian hama dilakukan dengan teknik penyungkupan plastik khusus yang memastikan gas fumigan terdistribusi merata ke seluruh staple beras tanpa merusak kualitas produk.
Kolaborasi Praktisi dan Akademisi
Dosen pendamping USM, Prof. Dr. Ir. Rohadi, M.P., menekankan pentingnya mahasiswa melihat realita di lapangan. Menurutnya, teori di kampus tentang teknologi pengemasan dan penyimpanan harus disinkronkan dengan pengalaman praktisi.
”Apa yang diberikan di kampus tentu kurang komprehensif. Melalui kunjungan ini, mahasiswa menerima pengalaman langsung dari praktisi Bulog mengenai sistem gudang komoditas utama,” jelas Prof. Rohadi.
Kunjungan ini diharapkan tidak hanya memperkuat literasi pangan mahasiswa, tetapi juga menumbuhkan kepercayaan publik terhadap kesiapan Bulog dalam menjaga stabilitas pangan nasional di tengah tantangan global.

Komentar