Pendidikan Semarang

Tim UIN Walisongo Solusikan Cerita Rakyat untuk Siswa Madrasah

BERITASEMARANG.ID — Berbagai upaya terus dilakukan untuk memupuk nilai toleransi pada generasi muda sejak dini. Tim riset Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang menggelar Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT) di Kendal (5–7/8), mengusung inovasi pengembangan Model Rekonstruksi Cerita Rakyat Nusantara sebagai media mitigasi intoleransi bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI).

​Ketua Tim Penelitian, Prof. Dr. Syamsul Ma’rif, M.Ag., menjelaskan bahwa dongeng dan cerita rakyat memiliki kedekatan emosional dengan anak-anak. Melalui rekonstruksi alur, karakter, dan pesan moral, tradisi lisan ini dinilai ampuh untuk menanamkan nilai keterbukaan, empati, dan persaudaraan.

Rekonstruksi cerita rakyat tidak hanya mengubah isi narasi, tetapi menjadikannya media pembelajaran yang hidup untuk membangun pemahaman siswa tentang keberagaman dan hidup harmonis,” ujar Prof. Syamsul.

​Program yang didanai oleh MoRA AIR Funds Kemenag–LPDP ini melibatkan secara aktif Kepala Sekolah dan para guru kelas IV, V, serta VI dari MI NU 04 Kumpulrejo. Keterlibatan praktisi pendidikan ini bertujuan untuk memastikan bahasa, ilustrasi, dan tingkat keterbacaan cerita benar-benar sesuai dengan perkembangan psikologis siswa SD/MI.

​Setelah tahap penyempurnaan media DKT selesai, rancangan cerita rakyat ini akan diuji coba secara terbatas kepada para siswa MI NU 04 Kumpulrejo melalui skema pre-test dan post-test.

Sinyal Telkomsel Menembus Perbukitan Gunungwangi Purworejo  

​Melalui inovasi berbasis kearifan lokal ini, UIN Walisongo dan Kementerian Agama berharap dapat melahirkan media pembelajaran konkret yang tidak hanya kaya nilai akademis, tetapi juga mampu mencetak generasi muda yang inklusif, berempati, dan tangguh dari ancaman intoleransi.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement