BERITASEMARANG.ID – Menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idulfitri 1447H, aktivitas ekonomi di Kota Semarang menunjukkan tren pertumbuhan yang sangat positif. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Andi Reina Sari H., mengungkapkan bahwa kinerja penjualan eceran mengalami peningkatan signifikan seiring dengan meningkatnya konsumsi masyarakat selama bulan Ramadan.
Berdasarkan data terbaru, Indeks Penjualan Riil (IPR) pada Januari 2026 mencatatkan pertumbuhan tahunan (year-on-year/yoy) yang cukup tinggi, yakni sebesar 16,97%. Andi Reina Sari menjelaskan bahwa pertumbuhan ini utamanya didorong oleh kelompok Barang Budaya dan Rekreasi yang tumbuh 36,14%, disusul sektor Suku Cadang dan Aksesoris sebesar 25,85%, serta kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau yang naik 25,78%.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), kenaikan IPR pada Januari mencapai 19,21%. Angka ini menunjukkan lompatan besar dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang hanya sebesar 3,69%. Peningkatan ini didominasi oleh kelompok pangan yang tumbuh 28,82%, Barang Budaya dan Rekreasi 13,48%, serta Peralatan Informasi dan Komunikasi sebesar 2,74%.
Tren penguatan ini diprakirakan akan berlanjut pada Februari 2026. Andi Reina Sari menyebutkan bahwa kinerja penjualan eceran secara tahunan diprediksi tetap tumbuh di angka 10,14% (yoy).
Menariknya, sub-kelompok Sandang mulai menunjukkan peningkatan signifikan dengan proyeksi pertumbuhan 19,37%. Hal ini lazim terjadi menjelang Lebaran di mana masyarakat mulai memenuhi kebutuhan busana dan perlengkapan ibadah. Selain sandang, kelompok Barang Budaya dan Rekreasi juga masih kuat dengan prakiraan tumbuh 31,57%, serta Suku Cadang dan Aksesoris sebesar 21,39%.
Secara bulanan di Februari, pertumbuhan diprakirakan mencapai 11,25%, yang kembali ditopang oleh tingginya permintaan pada kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau sebesar 16,91%, serta kelompok barang lainnya sebesar 3,46%.
Di sisi lain, masyarakat Semarang mendapatkan kabar baik mengenai stabilitas harga. Meski permintaan pasar melonjak, tekanan inflasi untuk periode tiga dan enam bulan ke depan (April dan Juli 2026) diprakirakan justru akan menurun.
Andi Reina Sari memaparkan bahwa Indeks Ekspektasi Harga Umum (IEH) untuk April 2026 tercatat sebesar 156,8, turun signifikan dari posisi bulan sebelumnya yang berada di angka 181,58. Sementara untuk periode Juni 2026, indeks harga berada di level 167,11, juga menunjukkan tren penurunan dibandingkan sebelumnya yang mencapai 176,3.
”Penurunan prakiraan tekanan inflasi ini sejalan dengan proyeksi peningkatan pasokan komoditas di pasar. Hal ini dikarenakan adanya periode masa panen raya yang jatuh pada bulan April dan Juli 2026 mendatang,” jelas Andi Reina Sari H. dalam keterangannya.
Kondisi ini diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat tetap terjaga, sehingga momentum perayaan Idulfitri 1447H di wilayah Jawa Tengah dapat berjalan dengan stabilitas ekonomi yang kondusif.

Komentar