Ekonomi Jateng

Ekspor Jawa Tengah Tembus 1,18 Miliar US Dollar, Amerika Serikat Masih Jadi Tujuan Utama

BERITASEMARANG.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah melaporkan kinerja perdagangan luar negeri yang impresif pada awal tahun 2026. Nilai ekspor Jawa Tengah pada Februari 2026 tercatat mencapai 1,18 miliar US Dollar, atau mengalami kenaikan signifikan sebesar 15,58% dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 1,08 miliar US Dollar.

​Kepala BPS Jawa Tengah, Dr. Ali Said, M.A., menyampaikan bahwa secara kumulatif pada periode Januari-Februari 2026, total ekspor Jawa Tengah menyentuh angka 2,21 miliar US Dollar. Angka ini meningkat 11,47% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

​Kenaikan nilai ekspor ini didorong oleh performa positif di berbagai sektor. Sektor industri pengolahan mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,86%, disusul oleh sektor pertambangan yang melonjak drastis sebesar 76,13%, serta sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang naik 6,39%.

​”Komoditas unggulan non-migas Jawa Tengah masih didominasi oleh produk tekstil dan alas kaki. Pakaian dan aksesorisnya (bukan rajutan) dengan kode HS 62, pakaian rajutan (HS 61), serta alas kaki (HS 64) tetap menjadi kontributor terbesar,” ujar Ali Said dalam rilis Berita Resmi Statistik, Rabu (1/4).

​Meskipun demikian, BPS mencatat adanya koreksi pada beberapa komoditas seperti kayu dan barang dari kayu (HS 44) serta perabotan dan alat penerangan (HS 94) yang mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya.

Perkuat Transparansi, OJK dan SRO Tuntaskan 4 Agenda Reformasi Pasar Modal

​Amerika Serikat masih mengokohkan posisinya sebagai negara tujuan ekspor non-migas utama dari Jawa Tengah dengan nilai mencapai 1,05 miliar US Dollar. Komoditas yang paling banyak dikirim ke Negeri Paman Sam tersebut adalah pakaian jadi dan alas kaki.

​Selain Amerika Serikat, Jepang dan Belanda juga menjadi negara tujuan utama dengan permintaan yang stabil, khususnya untuk produk perikanan dan alas kaki.

Berbanding lurus dengan ekspor, aktivitas impor Jawa Tengah juga menunjukkan dinamika yang menarik. Pada periode Januari-Februari 2026, total nilai impor mencapai 2,43 miliar US Dollar, naik 17,35% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

​Ali Said, menjelaskan bahwa kenaikan impor ini didorong oleh permintaan bahan baku atau penolong yang naik sebesar 13,43%, serta peningkatan impor barang modal dan barang konsumsi.

​Dilihat dari jenis komoditasnya, mesin dan perlengkapan mekanis (HS 84) serta mesin elektrik (HS 85) menjadi barang yang paling banyak didatangkan ke Jawa Tengah. Menariknya, impor dari Rusia mencatatkan angka 88,7 juta US Dollar yang didominasi oleh komoditas kendaraan udara dan bagiannya (HS 88) dengan kontribusi mencapai 75,91%.

Perkuat Hubungan Industrial, CCEP Indonesia dan Serikat Pekerja Resmi Sepakati PKB 2026-2028

​”Tiongkok tetap menjadi mitra impor terbesar dengan nilai 96,66 juta US Dollar, yang didominasi oleh mesin-mesin peralatan mekanis. Sementara itu, impor dari Amerika Serikat dan Hong Kong justru tercatat mengalami penurunan,” jelas Ali Said.

​Secara kumulatif, tiga negara yakni Tiongkok, Rusia, dan Amerika Serikat menyumbang sekitar 71% dari total impor non-migas ke Jawa Tengah. Kenaikan impor bahan baku dan barang modal ini diharapkan menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan produksi industri manufaktur di Jawa Tengah pada kuartal mendatang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

× Advertisement
× Advertisement