BERITASEMARANG.ID – Anggota Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah dari Fraksi PKB, Sumarwati, menekankan pentingnya pemberdayaan perempuan melalui pelestarian seni tradisional. Hal tersebut disampaikannya dalam kegiatan Peningkatan Kualitas Kebijakan Publik bertajuk “Peran Seni Rebana dalam Masyarakat Modern” yang digelar di Aula Gedung PCNU Kabupaten Pekalongan, Sabtu (18/4/2026).
Acara yang dibalut dengan peringatan Harlah Muslimat NU ke-80, Hari Kartini 2026, dan Halal Bihalal ini menyoroti bagaimana seni rebana dapat menjadi alat strategis bagi perempuan untuk menjaga militansi serta kemandirian organisasi di era digital.
Dalam paparannya, Sumarwati menyatakan bahwa seni rebana bukan sekadar warisan budaya yang pasif. Menurutnya, kesenian ini memiliki nilai ganda sebagai media dakwah sekaligus penguat identitas religius masyarakat.
“Kesenian rebana ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga media dakwah dan penguatan karakter. Dengan mengemasnya secara menarik di era modern, kita bisa menjangkau generasi muda sekaligus menjaga warisan budaya,” ujar Sumarwati di hadapan ratusan kader Muslimat NU.
Ia menambahkan, di tengah gempuran budaya asing, rebana tetap relevan sebagai sarana edukasi dan sosialisasi kebijakan publik yang efektif. Melalui media tradisional, pesan-pesan pembangunan lebih mudah diterima oleh akar rumput.
Dukungan Kebijakan Publik
Lebih lanjut, Sumarwati menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah dan organisasi perempuan seperti Muslimat NU adalah kunci keberlanjutan budaya lokal. Ia berkomitmen untuk terus mendorong kebijakan publik yang berpihak pada pelestarian seni tradisional agar para seniman memiliki ruang lebih luas untuk berkembang.
“Ketika budaya kita hidup, jati diri bangsa semakin kuat. Penting bagi perempuan untuk terus menjaga dan mewariskan nilai-nilai ini kepada generasi berikutnya,” pungkasnya.
Acara tersebut dimeriahkan dengan penampilan kelompok rebana lokal yang memukau peserta. Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bagi perempuan di Kabupaten Pekalongan untuk lebih berdaya, baik secara organisasi maupun ekonomi, melalui kreativitas berbasis budaya.

Komentar