BERITASEMARANG.ID – Menjadi perempuan berkemajuan di era digital sering kali diukur melalui pencapaian karier, pendidikan tinggi, atau pengaruh di media sosial. Namun, Dr. Ngurah Ayu Nyoman Murniati, M.Pd., dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS, menegaskan bahwa ada fondasi yang lebih krusial di balik itu semua: Kedaulatan Rasa.
Dalam pemikirannya, Dr. Ayu menyoroti bahwa kedaulatan rasa adalah kondisi di mana seorang perempuan memiliki kontrol penuh atas kebahagiaannya sendiri tanpa bergantung pada validasi eksternal.
Memutus Rantai Kebahagiaan Transaksional
Selama ini, narasi sosial cenderung memposisikan kebahagiaan perempuan sebagai “hadiah” atas keberhasilan anak, pengakuan pasangan, atau apresiasi atasan. Dr. Ayu menyebut fenomena ini sebagai kebahagiaan yang bersifat transaksional.
”Banyak perempuan hebat tetap merasa hampa karena ada syarat yang harus dipenuhi sebelum mereka mengizinkan diri sendiri untuk tersenyum. Jika dunia luar tidak memberi apresiasi, kebahagiaan itu sirna,” tulisnya.
Perempuan berkemajuan, menurutnya, harus mampu memutus rantai ketergantungan ini. Kedaulatan rasa adalah keputusan internal untuk merasa cukup dan bahagia tanpa menunggu dunia menjadi sempurna.
Filter Emosional di Tengah “Gempuran” Media Sosial
Di era informasi, perempuan dibombardir oleh standar kecantikan, pola asuh, hingga standar kesuksesan yang sering kali tidak realistis. Dr. Ayu menekankan pentingnya kematangan emosional sebagai penyaring.
-. Filter Emosional: Memilah mana suara yang layak didengar dan mana kebisingan yang harus diabaikan.
-. Melawan FOMO: Perempuan berdaulat tidak merasa tertinggal (Fear of Missing Out) karena memiliki kecepatan langkahnya sendiri.
-. Media Sosial sebagai Alat: Melihat platform digital sebagai sarana, bukan cermin jati diri atau ajang perbandingan yang melelahkan.
Martabat dan Kontribusi yang Tulus
Lebih lanjut, Dr. Ayu menjelaskan bahwa perempuan yang berdaulat secara rasa tidak lagi menjadi “peminta-minta” perhatian. Kemandirian emosional ini justru membuat hubungan dengan orang lain menjadi lebih sehat.
”Ia bahagia bukan karena ia mencapai sesuatu, tapi ia mencapai sesuatu karena ia bahagia. Perbedaan urutan kata ini mengubah segalanya,” jelas pakar Manajemen SDM Pendidikan tersebut.
Dengan kedaulatan rasa, seorang perempuan tidak lagi membebani pasangan atau rekan kerja dengan ekspektasi untuk membahagiakannya. Ia menjadi sosok yang stabil, mampu memberikan rasa aman, dan berkontribusi bagi masyarakat karena kebahagiaan yang meluap dari dalam dirinya sendiri.
Masa Depan Peradaban
Menutup pemikirannya, Dr. Ayu menegaskan bahwa kedaulatan rasa adalah kemerdekaan sejati yang diraih melalui refleksi dan disiplin mental. Di tangan perempuan-perempuan yang sudah “selesai” dengan dirinya sendiri inilah, peradaban yang lebih manusiawi dan empatik akan terbangun.
”Menjadi perempuan berdaulat berarti berani menetapkan batasan dan mencintai diri sendiri. Dari hati yang damai, akan lahir karya-karya besar yang abadi,” pungkasnya.
Penulis: Dr. Ngurah Ayu Nyoman Murniati, M.Pd. (Dosen Manajemen Pendidikan S2 UPGRIS)

Komentar